![]() |
| Caption: Irfan Tiago Usman, Ketua DPC Forum Bela Negara (FBN) Pontianak Timur. Foto. Ist. (SK). |
Irfan Tiago Usman, Ketua DPC Forum Bela Negara (FBN) sekaligus Ketua RT 04 RW 10 Kelurahan Tanjung Hilir, menilai kepemimpinan Sultan Syarif Melvin memiliki dimensi yang melampaui batas-batas feodalisme. Menurutnya, Sultan adalah jangkar stabilitas yang menjaga kohesi sosial di akar rumput.
"Selamat milad untuk Yang Mulia Sultan Syarif Melvin Alkadrie. Di tengah arus perubahan zaman, sosok beliau tetap menjadi rujukan moral yang menjaga martabat dan kehormatan daerah," ujar Irfan dalam keterangannya, Sabtu, 14 Februari 2026.
Narasi Bela Negara dan Kedaulatan Budaya
Irfan, yang juga memimpin ormas Forum Bela Negara di tingkat cabang, menegaskan bahwa nilai-nilai yang dibawa oleh Kesultanan Kadriyah sejalan dengan prinsip kedaulatan bangsa. Ia melihat ada korelasi kuat antara ketahanan budaya yang dipimpin Sultan dengan semangat bela negara yang ia perjuangkan.
"Bela negara bukan hanya soal fisik, tapi menjaga kedaulatan identitas. Sultan Melvin menunjukkan bahwa adat dan hukum (S.H) dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ketertiban umum. Beliau adalah simbol integrasi nasional di daerah," kata Irfan menegaskan.
Kepemimpinan di Akar Rumput
Sebagai tokoh yang bersentuhan langsung dengan warga di Tanjung Hilir, Irfan mengamati bahwa wibawa Sultan tetap mengakar kuat di level terkecil masyarakat (RT/RW). Ia berharap kepemimpinan Sultan terus memberikan arah bagi pembangunan manusia yang berbasis kearifan lokal.
"Kita butuh kompas moral, dan Sultan memegang peran itu dengan sangat baik. Harapan kami, di usia yang baru ini, beliau tetap konsisten berdiri di atas semua golongan sebagai pengayom masyarakat Pontianak," pungkasnya.
Milad Sultan Syarif Melvin kali ini diprediksi menjadi diskursus penting mengenai bagaimana lembaga adat tetap relevan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga kondusivitas wilayah di Kalimantan Barat.
Rizki SK

0Komentar