Tfr6TUCoBUC8GSAiTUCoGfW0Gd==
Light Dark
Bukber Kapuas, Kompak Jaga Tradisi

Bukber Kapuas, Kompak Jaga Tradisi

×

 

Caption:
Suasana Buka Puasa Bersama Yayasan Izzatul Ilmi Khazath. Minggu (13/3/2026). Foto. Ist. (SK). 
PONTIANAK, KALBAR (SK) – Ada yang berbeda dari kegiatan buka puasa bersama yang digelar Yayasan Izzatul Ilmi Khazath. Bukan di hotel, bukan di restoran, tapi di atas perahu yang menyusuri Sungai Kapuas.

Tradisi unik ini sudah berjalan empat tahun berturut-turut. Menariknya lagi, kegiatan tersebut digelar tanpa donatur besar, tanpa proposal bantuan, bahkan tanpa sokongan dana pemerintah.

Ketua Yayasan Izzatul Ilmi Khazath, Irfan Tiago mengatakan, kegiatan ini murni swadaya pengurus dan keluarga besar yayasan.

“Semua dari kebersamaan. Ada yang bawa makanan dari rumah, ada yang patungan. Yang penting kita bisa berbagi dan menjaga silaturahmi,” kata Irfan di sela kegiatan, Minggu (15/3/2026).

Menjelang waktu berbuka, rombongan berkumpul di atas kapal Galaherang yang perlahan menyusuri aliran Sungai Kapuas. Hidangan sederhana tersaji di atas geladak: kurma, kolak, air mineral, hingga makanan rumahan.

Suasananya jauh dari kata mewah. Namun kehangatan terasa kuat. Anak-anak duduk bersila, sementara para pengurus berbincang santai menunggu azan Magrib.

Bagi pengurus yayasan, memilih Sungai Kapuas sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Sungai terpanjang di Indonesia itu dianggap sebagai simbol kehidupan masyarakat Pontianak.

“Kapuas itu seperti kehidupan. Arusnya terus berjalan. Walau dengan keterbatasan, kegiatan ini tetap kita jalankan,” ujar Irfan.

Selama empat tahun tradisi ini berlangsung, acara digelar secara sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada spanduk sponsor, dan tidak ada sambutan pejabat yang panjang.

Yang ada hanya satu komitmen: berbagi meski dengan kemampuan sendiri.

Saat azan Magrib berkumandang dari masjid di tepian sungai, seluruh peserta menundukkan kepala memanjatkan doa. Tak lama kemudian, takjil dibagikan dan suasana berbuka pun dimulai.

Di tengah arus Kapuas yang tenang, kegiatan sederhana itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari kemewahan.

Kadang, justru dari kesederhanaan dan niat tulus untuk berbagi.

Empat tahun berlalu, tradisi ini terus mengalir—seperti Sungai Kapuas. Tanpa donatur, tanpa sorotan besar, tetapi tetap hidup karena semangat gotong royong.

“Berbagi tidak harus menunggu kaya,” tutup Irfan.


Rizki SK

Editor: Redaksi

0Komentar

SPONSOR