Pontianak, KALBAR (SK) — Klaim pemerintah provinsi bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) aman mendapat ujian serius di lapangan. Di Pontianak, antrean kendaraan terlihat memanjang sejak pagi hingga malam di sejumlah ruas utama kota. Kondisi paling mencolok terjadi di Jalan Penjara, Jalan 28 Oktober, Jalan Tol Landak, dan Jalan Panglima Aim. (Rabu 19-3-26).
Caption:
Situasi Kendaraan Saat Mengantri BBM di Jalan Pararel Tanjung Hulu. Kamis (19/3/2026). Foto. Irfan. (SK).
Deretan sepeda motor dan mobil bahkan mengular ratusan meter hingga menutup sebagian badan jalan. Warga mengaku harus menunggu berjam-jam, hanya untuk mendapatkan beberapa liter bensin. Di beberapa SPBU, pengisian dibatasi, sementara sebagian lainnya kehabisan stok sebelum antrean habis.
Situasi ini bertolak belakang dengan pernyataan resmi Walikota Pontianak, Gubernur Kalimantan Barat yang sebelumnya menegaskan distribusi BBM dalam kondisi aman.
Pernyataan tersebut kini menuai kritik warga yang merasakan langsung kelangkaan di lapangan.
“Kalau memang aman, kenapa kami harus antre sampai berjam-jam? Ini sudah beberapa hari,” kata seorang pengendara yang mengantre di kawasan Jalan 28 Oktober. Sejumlah sopir ojek dan pekerja harian bahkan mengaku kehilangan waktu kerja karena harus memilih antara mencari nafkah atau tetap bertahan di antrean.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean mulai terbentuk sejak subuh. Beberapa warga bahkan datang membawa jeriken, khawatir stok kembali habis sebelum giliran mereka tiba. Di sisi lain, aparat setempat terlihat berupaya mengatur arus lalu lintas agar kemacetan tidak semakin meluas.
Minimnya penjelasan detail dari otoritas terkait memunculkan berbagai spekulasi—mulai dari gangguan distribusi, keterlambatan pasokan, hingga dugaan permainan di tingkat distribusi lokal. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi yang menjawab secara terbuka penyebab antrean panjang tersebut.
Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya diperkirakan tidak hanya pada mobilitas warga, tetapi juga aktivitas ekonomi kota. Banyak pihak mendesak pemerintah provinsi dan pihak terkait untuk membuka data distribusi BBM secara transparan, sekaligus memastikan pasokan benar-benar sampai ke SPBU.
Bagi warga Pontianak, persoalannya kini sederhana: bukan lagi soal pernyataan stok aman, melainkan kapan antrean panjang itu benar-benar berakhir.
Irfan Tiago
0Komentar