Tfr6TUCoBUC8GSAiTUCoGfW0Gd==
Light Dark
Festival Mattompang Perkaya Khazanah Budaya di Pontianak

Festival Mattompang Perkaya Khazanah Budaya di Pontianak

×

 

Caption:
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, (Kanan) Bersama Ketua Umum Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB) Dr. Ardiansyah, SH., MH Bersatu Dalam Festival Budaya Mattompang diselenggarakan di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) Foto. Asbi (SK). 
PONTIANAK, KALBAR SK– Festival Mattompang menjadi salah satu upaya pelestarian budaya Bugis yang terus dijaga di tengah keberagaman masyarakat Kota Pontianak. Kegiatan ini dinilai tidak hanya sebagai perayaan tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Mattompang Benda Pusaka merupakan ritual budaya Bugis yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjadi simbol ketahanan budaya masyarakat Indonesia.

Caption:
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Budaya Mattompang di  di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) malam. Foto. Asbi (SK). 
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut saat membuka kegiatan di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) malam.

“Ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan identitas budaya,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan tradisi seperti Mattompang memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat multikultural. Ia menekankan bahwa Pontianak tumbuh dari keberagaman suku bangsa, termasuk etnis Bugis yang telah memberi kontribusi sejak masa kesultanan hingga kini.

“Kota Pontianak tidak terlepas dari peran berbagai etnis, termasuk Bugis, yang telah mewarnai sejarah dan pembangunan kota ini,” katanya.

Caption:
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, saat sesi foto bersama usai pelaksanaan Festival Mattompang. di Taman Alun Kapuas, Sabtu (2/5/2026) malam. Foto. Asbi (SK). 
Dengan luas wilayah sekitar 118,40 kilometer persegi dan jumlah penduduk kurang lebih 692 ribu jiwa, Pontianak menjadi ruang hidup bagi berbagai komunitas etnis. Saat ini terdapat sekitar 28 paguyuban etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih sebagai wadah komunikasi dan kebersamaan.

Pemerintah Kota Pontianak juga secara rutin memfasilitasi pertemuan lintas etnis melalui kegiatan coffee morning untuk membahas berbagai isu serta mempererat silaturahmi.

“Ini dilakukan untuk memastikan seluruh komunitas tetap berada dalam bingkai kerukunan dan persatuan,” jelas Bahasan.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pontianak baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu kota toleran di Indonesia, meski masih dalam tahap konsolidasi. Berbagai perbedaan pandangan di masyarakat, menurutnya, perlu disikapi dengan dialog dan diskusi.

“Kita berharap ke depan setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog dan diskusi, bukan dengan penolakan,” tegasnya.

Bahasan turut menekankan pentingnya merawat warisan sejarah, termasuk peran tokoh Bugis di masa lalu dalam menyelesaikan konflik kerajaan.

“Sejarah ini harus kita rawat bersama sebagai bagian dari identitas dan persatuan kita,” pungkasnya.


Asbi

Editor: Dani 74

0Komentar

SPONSOR