Pontianak, KALBAR (SK) - Di sebuah ruangan sempit di Kalimantan Barat, waktu seperti berhenti. Deretan pusaka tersusun rapi—keris berbalut kain lusuh, naskah tua dengan tinta yang mulai memudar, hingga peralatan adat yang nyaris dilupakan zaman. Di tempat itulah, Heri Sugiarto bekerja dalam senyap, merawat yang hampir hilang dari ingatan.
Sejak 2021, Heri memilih jalan sunyi: melestarikan pusaka. Pilihan yang tidak populer di tengah generasi yang lebih akrab dengan layar gawai daripada lembar sejarah.
“Pusaka bukan benda mati,” kata Heri, Kamis malam (9/04/2026). “Ia penanda peradaban. Jika hilang, kita tidak sekadar kehilangan barang—kita kehilangan jejak diri.”
Kini, Heri menjabat sebagai salah satu ketua di Pusaka Nusantara Kalbar. Di bawah perannya, upaya pelestarian mulai ditata lebih serius: inventarisasi pusaka dilakukan, dokumentasi diperbaiki, hingga perawatan mulai mengikuti standar yang lebih layak. Bukan sekadar menyimpan, tetapi merawat dengan kesadaran sejarah.
Namun, kerja sunyi itu berhadapan dengan kenyataan pahit. Minimnya perhatian pemerintah daerah membuat banyak pusaka terabaikan. Di sejumlah kampung, benda-benda bersejarah hanya disimpan seadanya—bahkan tak jarang berpindah tangan, dijual karena tekanan ekonomi.
Di titik inilah Heri memilih turun langsung. Ia mendatangi warga, membuka percakapan, membangun kesadaran bahwa nilai pusaka tak bisa diukur dengan uang.
“Yang dijual itu bukan benda,” ujarnya pelan, “tapi sejarah.”
Upaya itu belum sepenuhnya sia-sia. Perlahan, muncul ketertarikan dari generasi muda. Beberapa mulai bergabung, belajar membaca ulang sejarah lokal yang selama ini terasa jauh dari kehidupan mereka. Gerakannya kecil, tetapi mulai terasa.
Sejumlah pusaka yang dirawat Heri bahkan telah menembus panggung pameran. Sertifikat penghargaan dan piala dari berbagai ajang menjadi bukti bahwa kerja pelestarian ini bukan sekadar hobi pinggiran. Heri menyimpan harapan lebih jauh: membawa pusaka Nusantara tampil di level ASEAN, memperkenalkan warisan lokal ke panggung regional.
Namun, mimpi itu belum sepenuhnya mendapat sandaran. Dukungan pemerintah, yang diharapkan menjadi tulang punggung, masih terasa jauh.
“Saya berharap pemerintah kota dan daerah bisa melihat ini,” kata Heri. “Bukan untuk saya, tapi untuk masa depan budaya kita.
"Di tengah derasnya modernisasi, kerja seperti yang dilakukan Heri mungkin tampak kecil—bahkan nyaris tak terdengar. Namun justru di situlah maknanya: menjaga agar ingatan kolektif tidak tercerabut, agar sejarah tidak sekadar menjadi cerita yang hilang.
Sebab pusaka, bagi Heri, bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah penunjuk arah ke mana sebuah bangsa seharusnya melangkah.
Irfan Tiago

0Komentar